Kamis, 24 Maret 2016

Contoh Cerpen



Tu (Dilarang Bersiul di Hutan)
Maya Lestari GF, Padang
Pemenang 3 LMCPI Annida VII

    Setiap kali hujan datang, Tu selalu berlari menuju ambang pintu dan mendongak melihat langit. Warna yang abu-abu pucat membentang luas di atas kepalanya. Seolah-olah bentangan itu menutup langit dari timur ke barat, dari utara ke selatan. Titik-titik air jatuh deras dari langit, mengguyur daun-daun yang mengembang, merekah kesegaran. Air jatuh di helai-helai daun nipah yang menjadi atap rumah, untuk kemudian meluncur jatuh ke bawah dan menghunjam tanah, meninggalkan lubang-lubang kecil berderet di sekeliling rumah. Kadang-kadang guntur meledak hebat sekali, nyaris memekakkan telinga. Juga petir yang seperti berurat-urat di langit sesekali mengilat. Pada saat-saat seperti itu orang-orang akan lebih senang berada di dalam rumah yang hangat. Mereka yang berada di luar akan segera berlari-lari pulang sekedar berusaha menghindarkan diri diperangkap hujan lebih lama.

       “Masuk ke dalam, Tu.”
     Satu orang yang paling tidak suka melihat Tu berlama-lama di ambang pintu adalah Momoa. Kalau hujan sudah turun dengan lebat ia lebih suka berbaring di lantai kayu dengan sehelai selimut tipis yang menutupi kakinya. Momoa suka mengeluh dingin bila hujan datang. Dan pintu yang terbuka membawa hawa dingin itu masuk lebih banyak, membuat Momoa menggigil.

    Dengan enggan Tu mengangguk lalu menutup pintu. Rumah seketika gelap dan semua benda di dalamnya hanya menjadi bayangan samar. Hanya ada satu jendela di rumah. Di dekat pintu. Itu pun tertutup sebelah. Daun pintu jendela yang satu lagi dibiarkan sedikit merenggang.

    Tu berjalan ke bawah jendela itu dan duduk. Memerhatikan Momoa yang membawa selimutnya lebih tinggi menutup badannya. Tu tidak ingat sudah berapa lama ia tinggal dengan Momoa, yang pasti semenjak orang tua Tu meninggal, ia sudah bersama Momoa.

     “Alam sedang mencurahkan berkat dan kesegarannya untuk bumi,” ia mendengar Momoa berkata, “Jangan ganggu alam menjalankan tugasnya.”

    Tu melihat sebentar ke luar.
    “Menjalankan tugasnya?” ia mengulang kata-kata terakhir Momoa.

    “Kita semua berasal dari alam. Dilahirkan oleh alam, dan diberi berkat oleh alam,” berujar Momoa, “Kek Anta telah mengatur semuanya dengan sempurna. Ia adalah wujud alam ini. Batu, sungai, hutan, gunung, pantai. Adalah kewajiban kita untuk menjaganya, agar selalu diberi berkat oleh alam.”

    Tu tak menjawab. Dilihatnya kembali hujan yang masih deras mengguyur di luar. Kepalanya menyembul dari bawah jendela. Langit masih berwarna abu-abu pucat. Hujan yang diturunkan pun masih sederas yang tadi.

        “Tutuplah jendelanya, Tu,” ujar Momoa lagi, “Dingin.”

        “Nanti jadi gelap,” Tu protes.

    “Terang dan gelap adalah bagian dari alam. Hanya matamu yang tak bisa melihat kesatuannya,” jawab Momoa. “Tutuplah jendelanya.”

        Tu mengulurkan tangan, menutup jendela.

***
  
    Hujan berhenti ketika masa tengah hari telah berlalu lama. Tu membuka pintu dan mendapati alam sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Langit tampak bersih cerah. Sesaput awan melenggang melayari langit yang biru membentang. Tu melihatnya serupa kapal di atas lautan. Ia tersenyum.

       Tu menuruni tangga kayu. Anak-anak tangga itu berbentuk bulat dan jumlahnya tak lebih dari tiga buah. Di anak tangga terbawah ia melompat dan hup! Kakinya menjejak tanah. Tanah basah dan becek. Air menggenang di mana-mana. Ceruk-ceruk tanah nyaris seperti danau-danau yang kebanyakan air. Sayang tidak ada ikannya. Jati, yang rumah tak jauh dari rumah Tu, sendiri melambai dari jendela. Tu membalas lambaian itu, ia berlari kecil untuk mendapati Jati.

       “Andui bilang kalau dia akan ke rumah Kak Juli,” Jati memberitahu.

       “Apakah kau akan melihat itu?” mata Tu membesar.

     “Itu?” Jati mengerutkan kening, lalu tertawa kecil, nyaris tanpa suara, “Tentu saja kita akan melihat itu, kita akan melihat bagaimana Andui belajar di sana.”

       “Ayo kita pergi.”

       “Apakah Momoa tidak melarang?” tanya Jati sambil melirik sebentar ke rumah Tu.

       Tu menggeleng.

       “Kalau begitu ayo.”

       “Hei, kalian akan pergi ke mana?”

      Seorang perempuan muncul di belakang Jati. ia membawa semangkuk besar bu yang mengepul hangat.
        “Kami akan melihat Andui,” jawab Jati. Perempuan itu adalah ibunya.

        “Apakah ia masih belajar bersama orang dari kota itu?” tanya ibu Jati.

        Jati mengangguk.

      “Kalau begitu kalian hati-hatilah,” berujar ibu Jati, “Kota itu penuh dengan orang-orang jahat. Mereka itu licik dan curang. Tidak jujur. Mereka suka menipu. Kalian awasilah Andui. Jangan sampai ia terpengaruh oleh orang kota itu.”

        Jati mengangguk.
      “Jangan sampai orang itu merusak suku Lom yang masih murni seperti bayi,” ibu Jati mendengus sedikit, “Alam memberi berkah kepada kita karena kemurnian hati kita. Jangan orang kota itu memberi pengaruh buruk sehingga kita kena kutukan.”
      
        Jati mengangguk lagi.
        “Pergilah,” ujar Ibu Jati, “Tapi kalian cepatlah kembali.”

        Jati dan Tu mengangguk lalu dengan cepat mereka berlalu. Melintasi tanah yang becek. Melintasi ceruk-ceruk yang kecil maupun yang besar.

        “Apakah menurutmu orang kota memang jahat?” tanya Tu pada Jati.
       “Entahlah,” Jati mengangkat bahu, “tapi kata kepala dusun, orang itu banyak yang licik dan tidak jujur. Mereka suka menyakiti orang lain untuk mencapai keinginannya.”

     Sebuah ceruk besar menghadang mereka. Penuh dengan air. Tanah di sisi kiri dan kanan ceruk itu berlumpur. Tampak bekas-bekas kaki orang di sana, pertanda sebelum mereka tiba di sini, telah ada sebelumnya orang yang melintasi jalani itu.

        Pelan-pelan kaki telanjang Jati masuk ke dalam ceruk itu, lalu dengan wajah gembira ia berkata.

        “Lihat ini adalah danau kecil, tidak dalam, hanya sebatas mata kakiku.”

       “Ya,” Tu tertawa. Ia mengikuti Jati. Pelan-pelan dimasukkannya kakinya ke danau kecil itu.

    “Hei, itu kan kotor,” tiba-tiba mereka mendengar seseorang berseru. Cepat mereka menoleh. Andija berdiri beberapa puluh langkah dari mereka. Pakaiannya terlihat bersih juga kakinya. Ia mengenakan sandal.

       “Lihat dia,” bisik Jati, “Dia sudah mengenakan sandal. Dia sudah menjauhi bumi.”
       Tu mengangguk.   
       “Ayo cepat pergi.”
       “Ya.”
   
    Kembali mereka berjalan menyusuri jalan tanah. Melewati rumah-rumah, pepohonan yang basah dan cericit hewan hutan. Samar-sama suara arus sungai Air Abik menyusup ke telinga, meninggalkan kesan yang begitu nyaman. Katak-katak melompat di antara pohon.

    “Apa yang dipelajari Andui?” tanya Tu tiba-tiba begitu mereka melihat rumah yang dituju. Rumah itu disangga oleh empat belas batang kayu yang sama sekali tak bisa dibilang lurus. Atapnya daun nipah yang disusun sedemikian rupa sehingga tak memungkinkan air hujan untuk menyusup masuk ke dalam rumah. Di depan rumah ada atap tambahan yang disangga tiga tonggak kayu untuk melindungi pintu dan jendela dari hujan. Sama seperti rumah Tu, rumah itu juga hanya memiliki satu jendela. Dua buah keranjang rotan tertelungkup di samping rumah.  Di dekatnya sebuah topi lebar dari daun pandan.

      Mereka mendengar suara Andui.

    “Entahlah,” ujar Jati sambil mengangkat bahu, dibawanya Tu untuk mendekat ke rumah itu. Pintunya terbuka lebar. Tapi mereka tidak ke sana. Jati malah membawa Tu ke samping rumah dan menguping.

      “Ayo kita dengar apa yang mereka bicarakan.”
     Tu ikut menguping.
     Mereka mendengar seseorang berkata tentang huruf-huruf, lalu Andui dan beberapa orang lain mengikuti kata orang itu.
     “Mereka belajar apa?” tanya Tu.
     “Mereka belajar membaca.”
     “Membaca apa?”
     Jati mengangkat bahu.

    Mereka kembali menguping. Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa dari dalam rumah.
     “Sepertinya belajar membaca itu menyenangkan,” gumam Tu.
    “Ya, tapi tak ada gunanya,” Jati lalu menyeret Tu menjauhi rumah itu, “Begitu kata ibu.”
    “Mengapa tak ada gunanya?”
    “Sebab tak bisa digunakan untuk menamam lada,” jawab Jati, “Untuk menanam lada kita hanya membutuhkan tenaga, dan peralatan berladang. Aku pernah melihat Andui belajar membaca di rumah, membosankan, tahu tidak?”
    “Membosankan?” Tu membesarkan mata.
   “Ya, seluruh waktu hanya dihabiskan untuk melihat-lihat sebuah buku, tidakkah itu sia-sia?” Jati berkata, “aku bisa menanam sepetak ladang selama waktu Andaui membaca sebuah buku.”
    Tu terdiam sejenak.
    “Kalau tidak ada gunanya, mengapa membaca itu diajarkan?” tanyanya kemudian.
    Jati mengangkat bahu.
    “Kata Ibu...” ujarnya setelah melompati sebuah ceruk, “Membaca itu kegiatan orang kota, bukan orang-orang suku Lom yang masih murni seperti kita.”
     “Oh, ya?”
    “Orang-orang kota itu suka membaca dan akibatnya mereka menjadi orang yang licik, tamak, suka menipu, bahkan, kata kepala dusun...orang kota itu bisa dibeli dengan uang.”
    “Ya?”
    “Tapi kita...suku Lom sangat mementingkan kejujuran, dan kedamaian. Kita menyatu dengan alam dan diberi berkah oleh alam. Di sekeliling kita banyak terdapat roh-roh kehidupan yang menghuni setiap tanaman. Roh-roh yang memberi berkat.”

    Tu tak menjawab. Hanya diikutinya saja langkah-langkah Jati menyusuri jalan tanah dusun yang becek.
***
    “Andui belajar membaca,” kata Tu pada Momoa siang itu. Mereka berada di tepi sungai Air Abik yang bening. Dasar sungai itu terlihat begitu jelas, layaknya kaca. Kerikil coklat, kuning muda dan abu-abu seperti permata di dasar sungai. Ikan seluang berenang-berenang riang di antara lumut dan tanaman-tanaman air. Momoa duduk di atas batu hitam datar. Tangan kanannya mengambang di atas permukaan sungai untuk kemudian turun dan dengan lembut menjentik-jentikkan jemarinya. Jentikan itu berirama, Membentuk riak-riak kecil yang melebar hingga ketepian sungai. Dan seperti sebuah lagu, irama jentikan itu menarik ikan-ikan kecil untuk mendekat ke Momoa. Kulit Momoa tampak mengkilat di bawah sinar matahari. Itu membuat ia tampak seperti raja.

    “Andui belajar membaca,” kata Tu lagi pada Momoa. Matanya memandang lurus ke Momoa meminta untuk ditanggapi.  Di usianya yang kedua belas, Tu mulai tampak tumbuh sebagai seorang laki-laki suku Lom, bukan bocah kecil lagi.

    Momoa mengangguk-angguk. Dihentikannya jentikannya. Ketika ikan-ikan itu sudah menjauh Momoa menceduk air lalu meminumnya. Dipandangnya Tu.

    “Dahulu, Kek Anta membangun alam dengan kekuatannya, segala sesuatu lahir dari kemuliannya. Gunung, hutan, sungai. Anak-anak yang ia turunkan lalu memikul satu kewajiban untuk menjaga itu semua agar berkah dan kebahagiaan tetap tercurah. Agar roh-roh kehidupan selalu berdiam di pepohonan. Agar roh-roh kehidupan juga tetap berdiam di tanaman-tanaman supaya hasil panen terus melimpah. Kau lihat ikan-ikan kecil tadi, Tu?” Memoa berujar sambil menyapu pandangannya ke permukaan sungai yang bening datar, “Anak-anak Kek Anta bersahabat dengan alam, dan karena itu pula alam tak pernah menjauh. Kita, suku Lom sebagai anak-anak Kek Anta, dicintai oleh alam. Dan karena itu pula alam tak pernah menjauh. Kita, suku Lom sebagai anak-anak Kek Anta, dicintai oleh alam. Ikan-ikan kecil di sungai mendekat dan ramah kepada kita karena kita tak pernah memakan mereka. Kita hanya memakan ikan-ikan besar, itu pun dengan seperlunya, tidak berlebihan. Kita tidak pernah menebang pohon yang masih muda, kita hanya menebang pohon yang besar dan matang, itu pun dengan upacara khusus. Kita menyatu dengan alam, dan karena itu kita diberi berkah,” Momoa memandang Tu, “Apakah kau juga ingin belajar membaca seperti Andui dan berlaku layaknya orang kota seperti Andija?”

    Tu tak menjawab.

    “Andija telah menjauh dari alam, ia tak lagi dicintai,” Momoa bangkit dari duduknya, “Dulu aku pergi ke kota bersama kepala dusun dan yang kudapati adalah orang-orang kota yang pendusta, tak bisa dipercaya dan dibeli dengan uang. Kita orang Lom mementingkan kejujuran, kasih sayang dan harga diri. Itu adalah kemuliaan paling utama dari seorang manusia.”

    Momoa melompat ke tepi sungai. Dipandangnya Tu.
    “Banyak anak-anak suku Lom yang belajar bersama guru yang dari kota itu. Tapi itu tak menjadikan anak-anak pandai bertanam lada, dan mengerti adat mereka sendiri. Kepandaian membaca itu juga tak membuatmu pandai bergaul dengan alam. Kau pergilah ke kota, atau setidaknya pergilah ke Bangka, di sana kau bisa dapati orang-orang kota yang pandai membaca itu, merusak alam dan akhirnya kena kutukan.”

    Tu menatap Momoa.

    “Kutukan itu tak pernah datang ke kita, bukan?” Momoa membesarkan mata, “Alam memberi berkah pada kita karena kita tak menjauh darinya,” Momoa menunjuk kakinya yang telanjang, “Kita terikat pada alam ini, Tu. Kita terikat pada Gunung Pelawan dan dengan segala roh-roh kehidupan yang ada di dalamnya. Kita terikat dan mempercayai istri kepala dusun sebagai penimba mato kiamat yang akan menjaga kita dari semua kutukan itu.”

    Tu tak menjawab. Momoa mendekat pada Tu.  

    “Bahkan demi menjaga alam, kita pun dilarang bersiul di sini, supaya roh-roh kehidupan tidak menjauh dan pergi meninggalkan kita,” Momoa menatap Tu lekat-lekat.

    “Kau mengerti, Tu?”

    Tu tetap tak menjawab.

    “Kau mengerti, Tu?”

    Tu memberanikan diri menatap Momoa. Dua pandang mata mereka bertemu. Tatapan Momoa begitu kuat dan tajam, pertanda kekerasan hatinya. Orang-orang dusun sangat menghormati Momoa. Ia pandai mengucap jirat untuk menjaga ladang orang-orang dusun dari pencurian atau memaksa orang untuk mengakui kesalahannya. Tu sangat menghormati Momoa atas semua kepandaian dan wibawanya.

    Tu mengangguk.

    “Bagus, kau mengerti,” Momoa meletakkan telapak tangannya di kepala Tu, “Jadilah kau penjaga alam ini, sehingga kau dicintai dan diberi berkah oleh apa yang kau jaga.”
***
    Keadaan rumah beratap daun nipah dengan dua keranjang rotan di sampingnya itu masih sama seperti terakhir kali Tu melihatnya bersama Jati. Bedanya, sekarang daun-daun nipah itu tidak lagi basah dan meneteskan titik-titik air ke tanah. Atap itu kering, dan bila angin datang, daun-daun nipah yang menjuntai melambai-lambai tertiup angin. Sepasang sandal jepit tergeletak di kaki tangga.

    Tu tahu, bangunan itu bernama sekolah. Gurunya bernama Kak Juli yang  didatangkan dari Belinyu. Kak Juli tinggal di bangunan itu, dan setiap hari Sabtu ia pulang ke Belinyu untuk kembali lagi hari Minggu sore. Tu sering melihat Kak Juli tapi tak pernah bertegur sapa dengannya.

    Kali ini, tanpa Jati, ia memberanikan diri untuk datang ke bangunan sekolah itu. Pelan-pelan ia melangkah ke samping rumah dan menguping pembicaraan di dalam.

    Ia mendengar beberapa suara. Ia juga mendengar suara Andui.

    Mereka berangkat ke sekolah ketika hari sudah siang. Dulu, seingat Tu anak-anak suku Lom bersekolah pagi hari, tapi entah kenapa kemudian berubah menjadi siang hari. Biasanya, kalau pergi ke sekolah, Andui membawa sebuah tas pandan. Isinya buku dan pensil. Wajah Andui terlihat bahagia setiap kali pergi ke sekolah. Kadang-kadang Tu bertanya sendiri, apakah sekolah betul-betul menyenangkan? Apakah belajar membaca itu betul-betul membahagiakan? Karena sepertinya anak-anak yang belajar itu sering sekali tertawa.

    Tu mendengar seseorang berbicara mengenai sesuatu yang tidak dimengerti oleh Tu. Ada kata-kata negara, bangsa, dan yang lainnya. Itu semua hal yang baru bagi Tu, dan ia merasa aneh dengan itu semua. Apakah Momoa benar ketika mengatakan bahwa orang kota dengan segala perilakunya hanya akan merusak keseimbangan yang mulanya tercipta antara manusia dengan alam?

    Tu berdiam sejenak, menimbang-nimbang, apakah ia akan tinggal di sana lebih lama lagi ataukah harus pergi. Tapi kemudian kakinya melangkah dan ia memutuskan untuk pergi.

    “Hai!” tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil. Cepat Tu menoleh. Kak Juli. ia berdiri di ambang pintu, menatap Tu dengan senyum.  

    “Ingin belajar?” tanyanya pada Tu.

    Tu tak menjawab. Ia mendengar suara langkah-langkah kaki di dalam bangunan itu lalu beberapa kepala muncul di ambang pintu. Salah satunya Andui.

    “Tu,” panggil Andui, “Kau mau belajar?”

    Mendadak Tu merasa malu karena ketahuan telah menguping. Ia melangkah mundur. Ia merasa seperti maling yang ketahuan sedang mengambil barang yang bukan miliknya.

    “Ayo, masuk,” Kak Juli berkata dengan ramah. Ia menuruni tangga dan memasang sandal. Didekatinya Tu, “Kau suka belajar, Tu?”

    Tu kembali melangkah mundur. Anak-anak seusianya yang berdiri di ambang pintu juga tengah menatapnya. Andui terlihat sedang menuruni tangga.

    “Tu?” Kak Juli berkata lagi, “Namamu Tu, kan? Mau bergabung bersama teman-temanmu untuk belajar?”

    Tu menatap Kak Juli, lalu Andui, lalu anak-anak yang lain. Lalu ia teringat Momoa.

    “Tu?”

    “Tidak!” kata Tu kemudian sambil melangkah mundur sekali lagi, “Aku cuma mau bilang, dilarang bersiul di sini. Kau bisa menakut-nakuti roh kehidupan yang ada di pepohonan.”

    Ia lalu berbalik, secepatnya berlari pergi. Melintasi jalan tanah, melintasi pepohonan.

    “Tu!” ia mendengar seseorang berteriak.

    Tu terus berlari, tak tahu apakah harus menangis atau tertawa.

Padang, 30 Juni 2005

Keterangan:
Suku Lom: adalah sebuah suku terpencil yang tinggal di Dusun Air Abik, Dusun Pejam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Suku ini dikenal sebagai suku yang masih sangat kuat memegang kemurnian tradisi mereka di tengah perubahan zaman. Umumnya orang-orang suku Lom mencela hidup orang kota yang sudah kehilangan jati diri.
Kek Anta: Nenek moyang suku Lom, ia dipercaya sebagai seorang yang sakti yang diibaratkan dapat melahirkan berbagai wujud alam di Bangka seperti batu, sungai, hutan, gunung, dan lain-lain
Bu: nasi
Penimba Mato Kiamat: Pelindung bencana besar.
Jirat: semacam mantra untuk menjaga ladang dari pencurian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar